Terima kasih jadi sahabat saya

JOM KITA KLIK KLIK ^___^

JOM KITA KLIK KLIK ^____^

Ahad, 5 Julai 2015

RAMADHAN DAY 18 :: TAFSEER TIME

Assalamualaikum kekawan..
Semoga kita semua berada dalam rahmat Ilahi dan diberikan kesihatan


Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang baik untuk membaca Al Quran. Namun setiap wanita pasti tidak penuh menjalankan puasa. Ada satu waktu ia mengalami haidh. Ketika mengalami haidh tersebut, ia tentu terhalang untuk membaca Al Quran sehingga waktunya berkurang untuk mengkhatamkan Al Quran sebulan Ramadhan.
Berikut ada solusi yang baik untuk para wanita ketika menghadapi masalah ini.
1- Membaca mushaf saat haidh namun tidak menyentuh secara langsung
Membaca masih dibolehkan bagi wanita yang berhadats. Yang tidak dibolehkan adalah menyentuh langsung saat berhadats.
Dalil yang menunjukkan larangan untuk menyentuhnya adalah ayat,
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ
Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dalam keadaan suci di sini bisa berarti suci dari hadats besar dan hadats kecil. Haidh dan nifas termasuk dalam hadats besar.
Jika dilarang menyentuh Al Quran dalam keadaan haidh, lalu bagaimana dengan membaca?
Solusinya dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di mana beliau berkata, “Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh Al Qur’an, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Al Qur’an di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210)
Adapun hadits yang menyebutkan,
لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن
Tidak boleh membaca Al Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub.” Imam Ahmad telah membicarakan hadits ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “Hadits ini batil. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “Hadits ini adalah hadits dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadits.”
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hadits di atas tidak diketahui sanadnya sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadits dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudang seringkali mengalami haidh, seandainya terlarangnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh atau nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentu saja membaca Al Qur’an bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak melarangnya padahal begitu sering ada kasus haidh di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 191)
2- Membaca Al Quran terjemahan
Kalau di atas disebut mushaf berarti seluruhnya berisi ayat Al Quran tanpa ada terjemahan. Namun kalau yang dibaca adalah Al Quran terjemahan, itu tidak termasuk mushaf.
Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ mengatakan, “Jika kitab tafsir tersebut lebih banyak kajian tafsirnya daripada ayat Al Qur’an sebagaimana umumnya kitab tafsir semacam itu, maka di sini ada beberapa pendapat ulama. Namun yang lebih tepat, kitab tafsir semacam itu tidak mengapa disentuh karena tidak disebut mushaf.”
Jika yang disentuh adalah Al Qur’an terjemahan dalam bahasa non Arab, maka itu tidak disebut mushaf yang disyaratkan dalam hadits mesti menyentuhnya dalam keadaan suci. Namun kitab atau buku seperti itu disebut tafsir sebagaimana ditegaskan oleh ulama Malikiyah. Oleh karena itu tidak mengapa menyentuh Al Qur’an terjemahan seperti itu karena hukumnya sama dengan menyentuh kitab tafsir. Akan tetapi, jika isi Al Qur’annya lebih banyak atau sama banyaknya dari kajian terjemahan, maka seharusnya tidak disentuh dalam keadaan berhadats.
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.
Disusun di Pesantren Darush Sholihin, selepas Maghrib 3 Ramadhan 1435 H
Artikel Muslimah.Or.Id

Sabtu, 4 Julai 2015

RAMADHAN DAY 17 : RAMADHAN MENDIDIK KESABARAN

Assalamualaikum kekawan..
Semoga kita semua berada dalam rahmat Ilahi dan diberikan kesihatan yg sihat.



Antara ciri orang bertaqwa ialah mempunyai tahap kesabaran yang tinggi dalam menghadapi sebarang cubaan dan ujian daripada Allah sehingga imannya semakin kuat. Oleh itu ibadat puasa merupakan antara proses dalam menanam kukuh sifat sabar dalam diri umat Islam. Rasulullah saw ada bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Puasa itu sebahagian daripada sabar”
Sabda Nabi saw. lagi:
“Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran dan ganjaran kesabaran adalah masuk syurga.”
Sabar juga adalah sebahagian daripada iman sebagaimana sabda nabi dalam sebuah hadis
“Sabar itu sebahagian daripada iman”
Sabar adalah inti ajaran Islam dan iman. Bersabar ertinya mengendalikan dan memaksa nafsu untuk melaksanakan ketentuan syariat. Sabar adalah saudara dari syukur, kerana syukur tidak akan sempurna tanpa kesabaran.
Barangsiapa yang bersabar, maka ia telah bersyukur atas nikmat Allah swt. yang dikurniakan kepadanya.
Kesabaran memiliki pelbagai keutamaan dan manfaat. Allah swt. berfirman dalam surat Az-Zumar:10
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan dibalas dengan pahala tanpa batas.”
Dalam Surat An-Nahl: 96, Allah swt. berfirman:
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan kami pasti akan memberikan balasan kepada mereka yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Rasulullah SAW bersabda:
الإيمان هوَ الصَّبْرُ وَ السَّمَاحَةُ
“Iman adalah kesabaran dan suka memaafkan.”
Firman Allah swt. lagi:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keredhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi: 28)
Ramadhan adalah waktu paling tepat untuk melatih kesabaran kerana di bulan ini kita diwajibkan berpuasa dan ibadah puasa adalah separuh dari pada kesabaran. Sabar menahan makan dan minum, sabar untuk menahan nafsu syahwat (hubungan suami isteri di siang hari), sabar untuk menahan amarah dan angkara murka, sabar untuk menahan jiwa dan raga dari melakukan tindakan yang dapat mengurangi nilai-nilai dan pahala puasa, bersabar untuk bangun malam, untuk qiyamulail, untuk bersahur dan lain-lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
اَلصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ وَ لِكُلِّ شَيْئٍ زَكَاةٌ , وَ زَكَاةٌ اْلجَسَدِ الصَّوْمُ
“Puasa itu setengah dari kesabaran. Bagi tiap-tiap perkara ada zakatnya dan zakatnya badan ialah puasa.”
Dari Abu Hurairah ra beliau berkata: Rasulullah saw pernah bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, kerana sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa janganlah berkata keji(memaki), janganlah berteriak-teriak dan janganlah berbuat perkara yang bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa… .” [Bukhari dan Muslim]
Puasa Ramadhan merupakan media yang sangat efektif untuk melatih kesabaran. Betapa manusia beriman selama satu bulan penuh dilatih untuk sabar serta mampu menahan diri, tidak melakukan hal-hal yang menjejaskan pahala puasanya. Justeru kemuncak pasca ramadhan adalah dibebaskan dari api neraka dan terbinanya muslim yang lebih kuat dan bersih, generasi bertaqwa.
Oleh itu disepanjang Ramadhan ini mari kita tumbuh mekarkan sabar dalam jiwa kita, kita pupuk kesabaran agar kita mampu menghadapi cabaran kehidupan hari ini dan hari esok dengan jiwa mukmin yang penuh dengan kesabaran agar kita mampu melaksanakan perintah Allah swt. baik dalam suka mahupun duka, dimana saja kita berada, serta mampu menjauhi maksiat atau larangan-Nya sehingga kita menjadi muslim muttaqin.

Jumaat, 3 Julai 2015

RAMADHAN DAY 16 : PERBANYAKAN MEMBERI HADIAH ~ apa lagi BAJU RAYA le sebagai hadiah..

Assalamualaikum kekawan..
Semoga kita semua berada dalam rahmat Allah dan diberikan kesihatan yg baik..



Apa yg selalu saya berikan utk hadiah hari raya adalah baju raya... lepas tu tudung raya.. kerongsang raya..
Tapi saya masih lagi berhutang dengan anak2 saya utk beli baju raya.. tak sempat lagi nak beli, yg sempat baju melayu utk Nabil..
Ingatkan ahad ni baru all out shopping..

Kekawan dah habis shopping ke..